Berbicara mengenai sosok konglomerat dan orang-orang kaya di Indonesia, maka tidak akan terlepas dari sosok Robert Budi Hartono. Dia merupakan orang terkaya di tanah air, selama 10 tahun lamanya sejak tahun 2010-2020.
Robert Budi Hartono, juga dikenal luas oleh berbagai kalangan masyarakat sebagai bos besar Djarum Grup. Dan pemilik saham terbesar di Bank Central Asia (BCA) bersama kakak kandungnya, yaitu Michael Bambang Hartono.
Robert Budi Hartono lahir pada tanggal 26 April 1940 di Semarang, Jawa Tengah. Dengan memiliki nama tionghoa yaitu Oei Hwi Tjong, yang merupakan anak kedua dari Oei Wei Gwan seorang Tionghoa-Indonesia pendiri pertama dari PT Djarum.
Budi Hartono adalah anak bungsu dan memiliki saudara kandung laki-laki bernama Michael Bambang Hartono atau Oei Hwi Siang. Robert memiliki istri bernama Widowati Hartono atau sering disebut Giok Hartono. Pernikahan keduanya dikaruniai dengan tiga buah hati bernama Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono.
Sosok Robert Budi Hartono memiliki latar belakang profesi sebagai seorang pengusaha di berbagai bidang usaha saat ini. Ia dikenal luas oleh berbagai lapisan sebagai sosok yang luar biasa, terutama di bidang usaha dan bisnis. Sama dengan Bob Sadino, yang pernah mengalami pahit dalam menjalani usaha, dan pastinya sosok para pengusaha ini bisa membuat para kaum millineal terinspirasi.
Sebagai seorang pengusaha sukses, Budi Hartono memiliki kisah perjalanan hidup yang menarik untuk dibahas. PT Djarum menjadi perusahaan rintisan yang menghantarkan Budi Hartono menggapai kesuksesan dan kekayaan, sebagai salah satu konglomerat di tanah air.
Oei Wie Gwan di jaman itu berhasil memasarkan dan memperkenalkan rokok kretek dengan nama merk “Djarum”, sehingga sukses dan disukai pasaran Indonesia. Di tahun 1963, pabrik rokok Djarum mengalami musibah kebakaran hebat, sehingga membuat usaha Oei mengalami kerugian. Ditambah kondisi usaha yang kurang baik dan tidak lama setelahnya, Oei meninggal dunia.
Setelah ayahnya wafat, Robert bersama Michael Bambang Hartono diwariskan pabrik Djarum, yang hampir bangkrut dan melanjutkan usaha tersebut. Mereka berdua bahu-membahu dan kerja keras membangkitkan PT Djarum yang ‘mati suri’, dengan gagasan moderniasi alat-alat dan mesin pabrik.
Setelah pembaruan dan modernisasi alat, PT Djarum mulai bangkit hingga pada tahun 1972. Semakin berkembang dengan melakukan ekspor produk rokok ke luar negeri. Tiga tahun berselang kemudian, PT Djarum melakukan inovasi produk dan memasarkan Djarum Filter, merupakan merek rokok pertama yang diproduksi dengan menggunakan mesin. Produk merek Djarum Super kemudian hadir dan diperkenalkan pada tahun 1981.
Salah satunya perkebunan kelapa sawit dengan luas 65.000 hektar persegi, di Kalimantan Barat dari tahun 2008 hingga sekarang.
Di bidang properti terdapat proyek besar Grand Indonesia, yang ditandatangani pada tahun 2004 hingga selesai di tahun 2008. Proyek properti besar tersebut mencakup renovasi Hotel Indonesia, pendirian pusat belanja Grand Indonesia, gedung kantor. Dan juga apartemen 57 lantai dengan total biaya investasi mencapai sekitar 1,3 triliun rupiah.
Selain itu, bisnis properti besar lainnya Djarum Grup seperti, WTC Mangga Dua Jakarta, Pulo Gadung Trade Center, Hotel Malya Bandung, Sekar Alliance Hotel, dan Padma Hotel di Bali. Hingga sekarang, bisnis properti dari Djarum Grup tersebut semakin berkembang di berbagai kota di Indonesia.
Djarum Grup juga memiliki bisnis di bidang elektronik bermerek Polytron, yang sudah berkiprah selama 30 tahun lebih. Dengan membuat berbagai jenis produk-produk elektronik seperti televisi, AC,dispenser dan kulkas.
Lalu di bidang media dan digital teknologi, Djarum Grup membangun layanan televisi kabel berbayar Mola TV. Belum lagi, perusahaan Ventures Global Digital Prima yang memodali dan membuat perusahaan Global Digital Niaga (Blibli.com). Bahkan, membeli sebagian besar saham di Kaskus.com.
Di bidang olahraga Robert Budi Hartono mendirikan Yayasan PB Djarum, karena ia sangat menggemari olahraga bulu tangkis. PB Djarum sendiri rutin memberikan beasiswa bagi atlit-atlit muda berprestasi di olahraga bulu tangkis.
Yayasan PB Djarum telah berkontribusi untuk melahirkan pemain bulu tangkis legendaris Indonesia seperti, Lie Swie King, Alan Budi Kusuma, dan Icuk Sugiarto. Budi Hartono juga membangun sebuah stadion latihan bulu tangkis dengan megah dan besar di kota Kudus. Stadion latihan bulu tangkis tersebut juga sering dijadikan tempat kejuaraan, dalam ajang Djarum Badminton Indonesia Open.
Di sektor perbankan melalui PT Dwimuria Investama Andalan, Robert dan Michael Hartono menjadi pemilik saham terbesar di Bank Central Asia (BCA). Kakak beradik itu, menguasai 54 persen lebih saham bank swasta ternama di tanar air.

.jpg)
.jpg)
Sipp
BalasHapusSip
BalasHapusKeren
BalasHapusMenarik sekali
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusbagus
BalasHapusKeren sekali
BalasHapus